Kamis, 26 Januari 2012

PERWUDUJAN KOTA LAYAK HUNI MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI GREEN BUILDING DAN WASTE WATER GARDEN




Pengelolaan tata ruang kota di Indonesia hingga saat ini masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Salah satu parameternya adalah terlihat dari tidak berimbangnya rasio antara luas area huni yang tinggi dengan luas area hijau yang minim. Ketidakberimbangan ini telah menyebabkan terdegradasinya peran lingkungan. Padahal kita tahu bahwa lingkungan secara langsung sangat berperan dalam menyangga setiap bentuk kehidupan yang ada seperti halnya dalam penyediaan oksigen, penampung air tanah, dan pengatur suhu. Akibat nyata dari keadaan yang seperti ini adalah timbulnya berbagai permasalahan yaitu banjir, polusi, dan peningkatan suhu udara.
Berbagai permasalahan yang seperti ini sangat nyata terlihat pada kota-kota besar yang pertumbuhan penduduknya begitu pesat tanpa diimbangi oleh daya dukung lingkungan yang memadai contohnya adalah Jakarta. Pendapat ini mengacu kepada sebuah survey yang bertajuk Most Liveable City Index yang dilakukan oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP). Dari hasil survey ditunjukkan bahwa Jakarta termasuk kota dengan tingkat kenyamanan huni yang rendah. Selain Jakarta, berdasarkan survey tersebut beberapa kota di Indonesia juga tergolong dalam kategori yang sama seperti Banjarmasin, Batam, dan Medan.
Terdegradasinya daya dukung lingkungan sudah menjadi problema khas kota-kota besar di Indonesia. Fakta ini telah menuntut berbagai pihak untuk segera mencari solusi atas permasalahan yang ada. Salah satu solusi yang dinilai paling tepat adalah mencari cara untuk menaikkan daya dukung lingkungan dengan tujuan mengimbangi dampak pertumbuhan kota yang begitu pesat. Dalam hal ini penggunaan teknologi green building dan waste water garden dinilai sangat tepat untuk diaplikasikan di Indonesia. Hal ini mengacu pada pertimbangan bahwa iklim Indonesia yang tropis sehingga kedua teknologi di atas yang berbasis pada kinerja tumbuhan dapat bekerja secara efektif.
Green building merupakan rumah, kantor, dan gedung-gedung yang ditanami oleh berbagai jenis vegetasi tumbuhan yang dilengkapi oleh sistem drainase. Keuntungan dari penerapan green building pada daerah urban adalah sebagai penurun suhu udara sehingga dapat mengurangi penggunaan energi akibat pemakaian AC sekaligus menjadi pengreduksi polusi udara karena berbagai polutan dapat diserap oleh tumbuhan yang ada, akibatnya udara menjadi lebih bersih. Selain itu, green building juga dapat digunakan sebagai terapi yang dapat memberikan efek positif bagi psikologis manusia. Sebuah penelitian di Belanda menyimpulkan bahwa orang-orang yang sering melihat ruang terbuka hijau memiliki kondisi emosi yang lebih baik dibanding dengan orang-orang yang jarang melihat ruang terbuka hijau. Selain itu, ruang terbuka hijau juga berpengaruh pada penurunan tekanan darah (emosi) dan kemungkinan stress (Shaina dkk, 2008).
Penerapan green building juga dapat memaksimalkan pertanian penduduk karena tumbuhan yang digunakan dapat berupa tanaman pertanian terutama sayuran. Sebagai contoh, Fairmount Waterfront Hotel di Vancouver yang menanami gedungnya dengan tanaman sayur mampu memperoleh penghasilan Rp. 30.000.000,00/tahun. Green building juga dapat berfungsi sebagai media reduksi kebisingan terutama di daerah perkotaan yang aktivitas penduduknya sangat padat. The Federal Technology Alert melaporkan bahwa green building mampu mereduksi suara hingga 20-46 desibel (db). Keuntungan lainnya, green building dapat memelihara berbagai jenis hewan sebagai tempat hidup (habitat), perlindungan, dan mencari makanan serta bereproduksi. Beberapa spesies hewan tersebut meliputi kupu-kupu, laba-laba, semut, lebah, burung dan lain sebagainya.
Jenis-jenis tumbuhan yang dapat diterapkan pada green building meliputi kelompok tumbuhan semak, rumput, bunga-bungaan, perdu, dan pohon. Beberapa contoh tumbuhan tersebut adalah mawar (Rosa sp.), allamanda (Allamanda sp.), rumput teki (Cyperus sp.), rosela (Hibiscus sabdarifa), pinus (Pinus sp.), dan masih banyak tanaman lainnya. Pemilihan tanaman tersebut harus disesuaikan dengan kondisi lingkungannya (iklim, jenis tanah, sifat hidup tanaman) dan struktur bangunan.
Manfaat teknologi green building akan begitu lengkap jika dikombinasikan dengan teknologi waste water garden. Waste water garden merupakan salah satu penerapan rawa buatan yang dikombinasikan dengan tumbuhan yang terbukti efektif dalam mengurangi bahaya limbah. Penerapan waste water garden dapat dilakukan pada bangunan huni maupun industri. Waste water garden digunakan sebagai tempat penampung limbah yang kemudian akan diolah oleh tumbuhan melalui proses bioremediasi. Proses bioremediasi yang berlangsung, secara signifikan dapat menurunkan kadar bahaya dari limbah. Proses reduksi bahaya limbah ini dilakukan oleh tanaman tertentu yang telah terbukti mampu mereduksi limbah (fitoremediator) dengan cara memanfaatkan bahan pencemar sebagai nutrisi tanaman.
Mekanisme fotoremediasi oleh tanaman adalah menyerap berbagai jenis logam berat dan mengakumulasinya dalam jaringan tanaman (Juhaeti dkk, 2004). Selain tanaman, berbagai jenis mikroorganisme seperti protozoa dan bakteri juga mampu mereduksi bahaya limbah dengan mendekomposisi unsur limbah yang berbahaya dan memanfaatkannya bagi pertumbuhan mikroorganisme tersebut.
Proses akhir pada pengolahan air limbah dengan teknologi waste water garden adalah pengaliran limbah cair yang bahayanya telah berkurang ke dalam lapisan tanah atau langsung dialirkan ke parit-parit atau selokan. Limbah ini sangat banyak mengandung nutrien yang potensial bagi pertumbuhan tanaman sehingga banyak yang memanfaatkannya sebagai pupuk organik (www.pcrf.org, 2010).
Penerapan teknologi green building dan waste water garden di Indonesia sangat menjanjikan terutama di daerah urban yang padat penduduknya. Selain berkontribusi positif bagi kenyamanan dan kelestarian lingkungan, kedua teknologi tersebut juga memberikan keuntungan estetika dan ekonomi. Seperti telah diketahui bahwa masalah utama pembangunan daerah hunian dan industri adalah peningkatan suhu udara dan pencemaran lingkungan. Akibat dari peningkatan suhu udara adalah akan meningkatkan konsumsi energi listrik sebagai pendingin ruangan (AC) dan kipas angin. Sedangkan pencemaran lingkungan dapat menyebabkan tingkat kesehatan penduduk menurun karena sangat rentan oleh infeksi penyakit oleh pencemaran tersebut.
Prospek yang sangat menjanjikan bagi penerapan teknologi green building  dan waste water garden dikarenakan oleh semakin tingginya tuntutan para pemerhati lingkungan untuk menjaga eksistensi dan mengurangi pencemaran lingkungan. Penerapan teknologi green building dan waste water garden tidak memberikan efek negatif sama sekali bagi lingkungan melainkan sebaliknya, sehingga sangat berpotensi untuk memenuhi tuntutan yang ada. 
Kombinasi antar green building dan waste water garden diharapkan dapat diterapkan dengan tujuan menghasilkan kota yang layak huni di mana udara begitu bersih, pencemaran minim, kebisingan berkurang, suhu udara relatif rendah (sejuk), dan kota tampak lebih indah. Terciptanya kota layak huni dengan menerapkan aplikasi green building dan waste water garden merupakan sebuah terobosan baru keramahan manusia terhadap lingkungannya. Terobosan ini dapat menjadi sebuah icon bagi kota yang mau menerapkannya. Dalam pengaplikasikannya sangat diperlukan totalitas dari peran pemerintah dan swasta terkait.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar