Rabu, 20 Juni 2012

Menyoal Aspek Gizi, Ekonomi, dan Agama Produk Susu di Indonesia


Geliat Perkembangan Industri Susu


Dalam sejarahnya, sejak 8000 SM susu telah dimanfaatkan oleh penduduk Timur Tengah sebagai salah satu produk pangan. Pada saat itu, mereka mengambil susu dari beberapa spesies hewan yang memiliki kelenjar susu seperti sapi, kuda, dan domba yang mengalami domestifikasi dari alam liar [1]. Dari situ, kebiasaan minum susu menjalar hingga ke Eropa dan belahan bumi lainnya. Di Indonesia sendiri, tradisi minum susu baru dimulai ketika kedatangan Pemerintahan Hindia Belanda yaitu pada abad ke-18.


Sementara itu, pada tahun 1867 seorang pebisnis sekaligus ahli farmasi dari Jerman bernama Henri Nestle berhasil mensubstitusi susu sapi dengan gandum dan gula. Produk ini merupakan cikal bakal susu formula pertama di dunia yang ditujukan untuk pangan bayi. Pembuatan susu berformula ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kematian bayi ketika itu akibat sang ibu tidak mampu memproduksi ASI. Keberhasilan Nestle ini segera mendapat pengakuan publik dimana susu formula yang diraciknya mampu menjadi solusi masalah kematian bayi saat itu. Akhirnya, produk ini telah tersebar luas di Eropa dalam waktu sekejap. Momen ini merupakan awal mula perkembangan industri susu. Beberapa tahun kemudian, industri susu semakin menjamur dan tidak lagi dimonopoli oleh perusahaan milik Nestle. Produknya juga semakin beragam tidak hanya berupa susu formula.


Terlepas dari itu semua, perkembangan industri susu juga mengalami hambatan yang cukup besar di era 1980-2009. Susu dituding berbagai pihak sebagai produk yang tidak sehat karena seringnya ditemukan kontaminan pada produk olahan tersebut. Menurut Prof Talukder 2009, beberapa kontaminan yang sering dijumpai pada produk susu adalah pecahan logam dan berbagai bahan kimia seperti aluminium, mangan, merkuri, dan melamin. Beliau juga menambahkan bahwa susu formula telah menjadi penyebab kematian pada bayi selama beberapa dekade. Selain itu, WHO dan FOA (2004) juga menyebutkan bahwa susu formula adalah produk yang tidak steril karena belum ada teknologi yang benar-benar mampu membuatnya terbebas dari kontaminan [2].


Sejak saat itu, gairah industri susu menurun drastis dikarenakan banyak masyarakat yang was-was bila harus mengkonsumsi susu. Namun, para pelaku industri yang telah terlanjur terjun ke industri susu tidak menyerah sampai disitu. Dengan melakukan berbagai riset dan dukungan teknologi akhirnya secara lambat laun produk susu yang dipasarkan dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dari inovasi tersebut telah menjadikan produk susu lebih dapat dipertanggung jawabkan dari segi gizi dan agama. Hal ini membuat masyarakat yang dulunya tidak percaya lagi pada susu menjadi kembali percaya.  
Salah satu produsen susu (Sumber : duniabisnis.com).


Hingga saat ini, susu beserta produk olahannya telah dianggap sebagai minuman bergizi yang kaya manfaat. Tidak hanya untuk bayi tetapi kini telah menjangkau pangsa pasar yang lebih luas antara lain remaja, orang tua, hingga manula.

Konsumsi Susu dan Manfaatnya


Fakta membuktikan bahwa konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara berkembang lainnya, bahkan terendah di Asia. Menurut Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan (2012), saat ini pola pikir masyarakat Indonesia masih menganggap susu sebagai barang yang mewah. Konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 11 liter/kapita/tahun [3]. Jika dibagi total penduduk, konsumsi tiap orang hanya lima tetes per hari. Kondisi ini menyebabkan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Negara tetangga Malaysia dan Filipina yang mencapai 22 liter/kapita/tahun. Bahkan di Amerika, konsumsi susu penduduknya mencapai 100 liter/kapita/tahun [4].


Fakta lain menunjukkan konsumsi susu anak-anak Indonesia ternyata juga lebih rendah dibandingkan anak-anak bangsa lain. Akibatnya, rata-rata bobot bayi Indonesia berusia dua tahun lebih rendah 2 kg dari bobot bayi bangsa lain pada usia yang sama. Tinggi badannya juga lebih rendah 5 cm [4]. Beberapa hal yang ditengarai menjadi penyebab rendahnya konsumsi susu di Indonesia antara lain pendapatan perkapita masyarakat yang masih rendah, harga susu yang relatif mahal, pandangan masyarakat yang keliru mengenai susu, faktor sosial budaya masyarakat, adanya lactose intolerance pada masyarakat, dan relatif belum berkembangnya industri pengolahan susu di Indonesia. 
Kebiasaan minum susu (Sumber : bayibalita.com).


Terlepas dari kondisi di atas, bagi orang tua kehadiran buah hati merupakan berkah yang tak ternilai. Apapun dilakukan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, kuat, cerdas, dan berguna. Untuk mewujudkan hal tersebut, asupan gizi merupakan prioritas yang wajib diperhatikan. Bila si kecil mendapat asupan gizi yang cukup dan seimbang maka pertumbuhannya akan semakin optimal. Begitu pula sebaliknya, bila asupan gizi anak kurang maka pertumbuhannya dapat saja terganggu. Gangguan pertumbuhan yang bisa saja muncul dapat berupa tubuh yang rentan sakit, kondisi fisik yang lesu, kurang cerdas, dan memiliki bobot dan tinggi badan yang rendah.


Dalam mengantisipasi gangguan pertumbuhan pada anak, saat ini banyak sekali berkeliaran produk-produk kesehatan maupun kecerdasan yang menjanjikan banyak hal. Namun, dari begitu banyaknya produk tersebut peran susu masih dipercaya paling ampuh dalam mengiringi tumbuh kembang anak-anak. Kepercayaan orang tua kepada produk susu juga tergolong besar daripada produk lainnya yang memiliki manfaat serupa. Banyaknya bukti manfaat susu untuk tumbuh kembang anak membuat orang tua tidak ragu untuk memberikannya kepada sang buah hati. Dari riset-riset yang ada ternyata manfaat susu sangatlah banyak antara lain mencegah penyakit darah tinggi dan jantung, menetralisir racun yang masuk ke tubuh, memperkuat fungsi syaraf, meningkatkan efektifitas kerja otak, menambah kekuatan tulang, mempertajam penglihatan, mempercepat penyembuhan luka, memperlambat gejala lelah, dan membantu tidur yang nyenyak [5].


Selain manfaat di atas, banyak produsen yang berlomba-lomba menciptakan produk susu yang memiliki manfaat yang lebih besar dan spesifik melalui berbagai inovasi. Salah satunya produsen susu Frisian Flag. Di Indonesia, produk susunya lebih dikenal dengan Susu Bendera. Baru-baru ini merk dagang tersebut mengeluarkan inovasi berupa susu formula 123 dan 456 yang diklaim sebagai susu formula pertama yang mengandung isomaltulosa. Senyawa ini telah terbukti secara klinis mampu memberikan pengaruh positif pada konsentrasi serta daya ingat anak sehingga mendukung proses belajar agar lebih optimal. Banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari susu bagi anak-anak namun perannya bukanlah sebagai pengganti ASI. Suplai ASI wajib diberikan bagi bayi di bawah umur satu tahun karena itu merupakan kebutuhan pokok sang bayi yang tidak tergantikan. Dalam hal ini susu formula hanya diberikan bagi bayi di atas umur satu tahun atau bagi ibu yang tidak mampu memproduksi ASI karena beberapa sebab.  

Aspek Gizi, Ekonomi, dan Agama


Bagi sebagian kalangan, susu formula telah menjelma menjadi minuman favorit khusunya bagi anak-anak. Hal ini disebabkan oleh rasanya yang enak dan gurih dengan aneka rasa yang menggoda. Selain itu, produk-produk susu formula yang ada di pasaran juga cukup variatif dari segi manfaatnya. Apabila dulu susu hanya diperuntukkan sebagai suplemen untuk mencukupi asupan gizi tubuh atau sebagai pengganti ASI, maka sekarang peruntukkannya sudah lebih luas. Jika kita lihat di pasaran, produk susu formula telah menyasar pangsa pasar yang lebih luas dengan berbagai tingkatan usia. Sebut saja susu formula bagi ibu hamil, anak-anak, remaja, dan manula.


Dengan label tertentu, susu formula seakan mengimingi-imingi konsumen dengan manfaat yang cukup menggugah misalnya untuk kecerdasan anak, kesehatan janin, daya tahan tubuh, suplemen antiosteoforesis, mencegah pikun, dan lain sebagainya. Banyaknya manfaat dari susu formula disebabkan oleh kandungan zat gizi yang cukup tinggi dan beragam terutama mineral dan vitamin. Selain kandungan tersebut, terkadang produsen susu formula juga menambahkan berbagai zat gizi lain sesuai dengan peruntukkan susu tersebut. Misalnya bila diperuntukkan sebagai suplemen antiosteoforesis maka susu formula akan ditambahkan zat kalsium dengan takaran lebih tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kekuatan tulang. Atau bila sasarannya anak-anak maka biasanya susu dilengkapi dengan prebiotik untuk menjaga daya tahan tubuh. Jadi tidak diragukan lagi bahwa susu formula dapat dijadikan sebagai asupan gizi yang baik bagi tubuh. Bahkan bila tanpa susu, asupan makanan serasa belum lengkap. Apalagi pada tahun 1950an, Bapak Gizi Indonesia Prof. Poorwo Soedarmo memperkenalkan kampanye Empat Sehat Lima Sempurna sebagai bagian kampanye untuk meningkatkan kegemaran minum susu. Beliau berpendapat bahwa makanan yang sempurna adalah makanan yang menyertakan asupan susu sebagai pelengkap kebutuhan tubuh.


Dari aspek ekonomi, harga jual produk susu formula maupun produk olahannya merupakan hal yang layak diperbincangkan. Jika ditinjau dari harga yang ada maka kita berbicara dalam cakupan relativitas. Bagi masyarakat kelas menengah ke atas harga susu masih cukup bisa dijangkau, sedangkan sebaliknya bagi masyarakat menengah ke bawah harga susu masih dianggap cukup mahal. Namun secara umum, di Indonesia harga susu masih dipandang relatif mahal dan dianggap sebagai suatu kemewahan. Irawan dalam Ariningsih (2011) menunjukkan bahwa diantara berbagai pangan sumber protein hewani, harga per satuan protein susu termahal kedua setelah protein daging ruminansia [4]. Mahalnya harga susu (dalam negeri) adalah imbas dari beragam problem persusuan nasional yang membelit, mulai dari produksi hingga ke distribusi. Harga yang mahal ini ditengarai sebagai salah satu sebab rendahnya konsumsi susu masyarakat Indonesia. Secara lengkap, daftar harga susu formula dari berbagai merk dapat dilihat di sini. Untuk mengatasi mahalnya harga susu tersebut perlu dilakukan langkah-langkah strategis terutama dari pemerintah. Bila keadaan ini terus dibiarkan maka konsumsi susu kita tetap saja rendah.
Ungkapan mahalnya harga susu (Sumber : foto.detik.com).


Sebagai negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, kehalalan susu dan produk olahannya merupakan hukum wajib. Di Indonesia bahkan negara lainnya, produk susu yang ada di pasaran sebagian besar merupakan susu olahan atau susu formula. Artinya susu tersebut sudah mengalami substitusi dengan bahan-bahan tertentu sesuai keinginan produsen. Dari proses pengolahan ini bisa jadi produk susu yang semula halal menjadi tidak halal sehingga sangat perlu dicermati prosesnya.


Menurut Wakil Direktur LPPOM MUI Bidang Auditing, Ir. Muti Arintawati, M.Si :
Pada proses pengolahan susu ada beberapa hal yang mesti dicermati titik kritis keharamannya. Salah satunya adalah bahan yang diperoleh dari proses pembuatan keju dimana melibatkan penggunaan enzim rennet.  Enzim ini didapat dari lambung anak sapi. Jika rennet yang digunakan berasal dari sapi yang tidak disembelih secara syariah Islam, maka produk susu yang dihasilkan dapat tercampur bahan yang haram sehingga statusnya juga menjadi haram [6].”


Bahan tambahan lain yang patut dicermati dalam proses pengolahan susu adalah mineral, vitamin, dan perasa. Sebagai contoh, sumber vitamin yang digunakan dapat berasal dari hewan, tumbuhan, atau mikrobial. Jika vitamin berasal dari hewan maka harus ditelusuri hewan apa yang digunakan dan bagaimana proses penyembelihannya. Begitu pula halnya dengan mineral yang biasanya diambil dari tulang hewan harus diperhatikan jenis dan cara penyembelihan hewan tersebut.


Bertolak Dari beberapa titik kritis dalam proses pengolahan susu di atas, maka sebagai konsumen kita harus benar-benar jeli dalam menentukan pilihan pada produk yang halal. Salah satu cara paling mudah untuk melihat kehalalan sebuah produk susu adalah dengan memperhatikan ada atau tidaknya cap halal pada kemasan. Selain itu jangan lupa untuk melihat tenggat kadaluarsa produk tersebut.

Masalah, Solusi, dan Langkah Strategis


Produk susu yang bergizi tinggi, ekonomis, dan halal adalah dambaan sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, bila melihat kenyataan yang ada hanya segelintir dambaan tersebut yang telah menjadi kenyataan. Dari aspek gizi, keberadaan produk susu sudah tidak diragukan lagi. Hal ini disebabkan setiap produk susu yang dijaja di pasaran nilai gizinya harus sesuai dengan standar yang diberlakukan RDA (Recomendation Dietery Allowence). Oleh sebab itu permasalahannya bukan lagi bergizi atau tidak, melainkan lebih dititik beratkan pada kebutuhan gizi yang tepat sasaran untuk konsumen. Terkadang kita sering diperhadapkan dengan kesulitan dalam memilih susu yang baik dan tepat. Masalah ini diperumit dengan semakin banyaknya susu formula yang beredar di pasaran. Keadaan yang seperti ini bisa saja membuat kita justru salah dalam menentukan jenis susu yang tepat bagi tubuh karena begitu banyaknya pilihan yang cukup membingungkan.


Pemilihan susu yang tepat juga didorong oleh alasan bahwa susu sangat terkait erat dengan masalah kesehatan. Contohnya, ada anak yang tubuhnya tidak cocok dengan susu tertentu sehingga dapat menimbulkan penyakit diare. Dan ada pula orang yang ketika minum susu langsung terkena gejala mual-mual bahkan muntah. Berlatar belakang masalah di atas maka dirasa perlu untuk mengoptimalkan kegiatan sosialisasi pemilihan jenis susu baik dari dokter, sales promotion di supermarket, iklan, dan brosur dengan tujuan meningkatkan pemahaman konsumen dalam memilih jenis susu terbaik bagi dirinya. Berbagai pihak seperti produsen susu, LSM, hingga pemerintah sangat ditunggu peran aktifnya dalam mewujudkan solusi ini.


Permasalahan ekonomi, terutama harga produk susu yang relatif mahal telah menjadi hal yang serius di bangsa ini. Kondisi ini secara langsung telah menurunkan konsumsi susu perkapita di Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan ini, berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh produsen susu adalah dengan tiada henti berinovasi sekaligus mengeksplor kekayaan alam Indonesia kemudian mengemasnya menjadi bahan baku industri susu yang lebih ekonomis. Upaya ini dapat diwujudkan dengan cara mencari bahan substitusi baru yang lebih murah dan atau mengembangkan teknik produksi yang lebih hemat.


Selain produsen susu, pemerintah juga harus ikut andil dalam mengatasi permasalahan mahalnya harga susu. Misalnya dengan memberlakukan kebijakan pemberian subsidi kepada produsen susu sehingga harganya dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Menurut hemat penulis, pemberiaan subsidi ini bukan merupakan kebijakan yang salah dalam arti tidak tepat sasaran tetapi justru sebaliknya. Dengan semakin banyak masyarakat yang rutin mengkonsumsi susu, maka secara langsung telah meningkatkan kemampuan SDM yang bersangkutan karena kita tahu bahwa susu telah terbukti mampu meningkatkan produktifitas seseorang.


Goal akhirnya akan tercipta SDM yang handal sekaligus meningkatnya taraf kesehatan masyarakat. Dampak lainnya, dengan semakin banyaknya konsumsi susu maka secara otomatis permintaan susu juga ikut meningkat. Pada akhirnya akan terjadi gairah industri susu di tanah air yang sampai saat ini masih dinilai lesu. Apabila gairah industri susu telah menjanjikan dan persaingan antar produsen semakin kompetitif maka harga susu juga lambat laun menjadi terjangkau. Di saat yang seperti ini subsidi menjadi sesuatu yang tidak lagi wajib. Jadi kesimpulannya, subsidi yang diberikan hanyalah sebagai penstimulus untuk menurunkan harga susu yang mahal dan sifat subsidi ini hanya temporer. Dari kebijakan ini semestinya semua pihak baik itu produsen, masyarakat, dan pemerintah akan diuntungkan.


Jika masalah gizi dan ekonomi telah teratasi, maka konsistensi dalam memproduksi produk susu yang halal juga patut diperhatikan. Perjuangan ini bukanlah perkara yang mudah karena melibatkan banyak pihak terkait. Mulai dari produsen, BPOM, LPPOM MUI, Kementerian Agama, dan lembaga terkait lainnya. Inti kegiatan yang wajib difokuskan dalam menjaga kehalalan produk susu adalah efektifitas pada tingkat pengawasan mulai dari proses produksi hingga pamasaran. Lembaga pengawas maupun lembaga pemberi sertifikat harus memiliki kinerja handal yang dibuktikan dengan seberapa seringnya dilakukan pengawasan dan pengecekan terhadap produk susu yang telah atau belum mengantongi sertifikat halal. Intensitas pengawasan dan pengecekan yang tinggi akan membuat peluang terjadinya kesalahan yang dapat menyebabkan keharaman susu menjadi berkurang. Selain itu, perlu juga sanksi tegas bagi setiap produsen yang melanggar aturan kehalalan produk susu. Sanksi tegas ini bisa dilakukan dengan sinergi penegak hukum yang ada misalnya mencabut izin usaha, denda, atau pidana.


Upaya edukasi kepada masyarakat agar lebih selektif dalam mengkonsumsi susu yang tidak memiliki label halal juga perlu digiatkan. Sebagai seorang blogger kampanye konsumsi susu halal juga dilakukan melalui blog ini. Kita tahu bahwa media internet sekarang telah menjadi sarana transfer informasi yang begitu cepat dan luas sehingga dinilai cukup efektif dalam menginformasikan sekaligus menggugah masyarakat luas untuk senantiasa mengawasi peredaran susu halal. Selain menjadi objek kebijakan, masyarakat sebagai konsumen juga dapat dijadikan mitra kerja sama pemerintah atau lembaga pemberi sertifikat halal. Kerja sama ini dapat saja berupa pertukaran informasi dimana masyarakat diberikan ruang aspirasi untuk melapor apabila ada produk susu yang dinilai meragukan kehalalannya. Oleh sebab itu, saat ini pemerintah atau LPPOM MUI dapat memikirkan cara untuk menciptakan ruang aspirasi yang efektif dan efisien.


Menjaga produk susu yang halal harus menuntut keseriusan berbagai pihak yang ada baik itu pemerintah, produsen, dan masyarakat. Melalui usaha dan kerja keras tersebut sangat dimungkinkan produk susu tanah air akan selalu halal.

Referensi
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Susu#Sejarah_Susu diakses tanggal 12 Juni 2012.
  2. http://health.detik.com/read/2010/11/09/174015/1490514/764/lika-liku-p=omosi-susu-formula diakses tanggal 12 Juni 2012.
  3. http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/06/02/93269/Masyarakat-Indonesia-Minum-Susu-Hanya-5 diakses tanggal 13 Juni 2012.
  4. Ariningsih E. 2011. Pengembangan Industri Pengolahan Susu dalanm Upaya Peningkatan Konsumsi Susu dan Produk-Produk Olahan Susu di Indonesia. Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII.
  5. http://www.untukku.com/artikel-untukku/11-manfaat-susu-untukku.html diakses tanggal 14 Juni 2012.
  6. http://food.detik.com/read/2012/06/11/120505/1937907/901/susu-olahan-bisa-juga-tidak-halal diakses tanggal 16 Juni 2012.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar