Rabu, 25 Juli 2012

Pengendalian Jumlah Penduduk Sebagai Solusi dalam Mengatasi Problematika Jakarta


Banjir visi dan misi mewarnai hiruk pikuk pemilihan kepala daerah Jakarta. Masing-masing calon Gubernur berlomba memaparkan solusi apabila terpilih menjadi orang nomor satu di tanah Batawi tersebut. Janji-janji manis pun tak tertahan untuk keluar dari lidah para kompetitor. Ada yang menjanjikan Jakarta bebas banjir, ada pula yang menjanjikan Jakarta bebas tunawisma, dan ada pula yang menjanjikan menciptakan tata ruang kota yang lebih baik. 


Terlepas dari itu semua, sebuah kenyataan tak dapat kita pungkiri mengenai kondisi Jakarta saat ini. Berbagai problema serasa begitu membelit kehidupan masyarakat metropolitan sehingga perlu ada solusi jitu dalam mengurai benang kusut permasalahan Jakarta. Bahkan kantor berita CNN pernah melansir sebuah artikel yang menyebutkan Jakarta memiliki predikat sebagai kota terburuk ketujuh di dunia (tempo.co, 19/06/2012) [1].

Pengendalian Pertumbuhan Penduduk
Penanganan Jakarta melalui berbagai kebijakan yang ada hingga saat ini masih dinilai bak singa ompong. Kebijakan ini dan itu seharusnya dapat memberikan sumbangsi dalam mereduksi problematika yang ada namun pada kenyataannya hal itu masih jauh dari harapan. Pola pengembangan yang menitik beratkan solusi pada masalah struktural ditengarai sebagai langkah yang keliru. Selama ini para pemimpin dari berbagai generasi kekuasaan selalu beradu cepat dalam menciptakan infrastruktur sebagai alat pemecah masalah misalnya penambahan infrastruktur jalan, revitalisasi ruang terbuka hijau, menciptakan transportasi massal, dan lain sebagainya. Tetapi, hasilnya masih boleh dikatakan minim. Setidaknya ini terlihat dari permasalahan Jakarta yang masih ada bahkan relatif bertambah parah.

Lalu, solusi seperti apa yang dapat meminimalisir permasalahan ibukota tersebut? Jawabannya adalah “mengendalikan pertumbuhan penduduk.” Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali merupakan AKAR masalah yang terjadi selama ini. Secara logis kita pasti mengiyakan pendapat tersebut. Bayangkan saja bila pertumbuhan penduduk semakin tidak terkendali maka kebutuhan akan ruang juga semakin meningkat. Efeknya tentu menyebabkan kemacetan, berkurangnya lahan hijau, meningkatnya kriminalitas hingga mampu menyebabkan terjadinya perubahan iklim yang menyengsarakan misalnya banjir. Dalam artian sederhananya, pertumbuhan penduduk Jakarta sudah tidak lagi mampu didukung oleh kapasitas lingkungan yang ada.



Gambar 1. Potret berbagai permasalahan Jakarta [2,3,4].

Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010 menyebutkan bahwa jumlah total penduduk Jakarta adalah sebesar 9,57 juta jiwa (tempo.co, 05/04/2011) [5]. Sedangkan luas daratan sebagai daerah huni di Jakarta hanya 661,52 Km2. Jadi rasio jumlah penduduk dan ketersedian lahan untuk tempat tinggal telah menunjukkan angka yang tidak masuk akal yaitu sebesar 14.456 jiwa/Km2. Oleh sebab itu, pengendalian jumlah penduduk harus menjadi fokus utama pemimpin kelak. 


Menimbang Kapabilitas Calon Pemimpin Jakarta   
Pemilihan gubernur tanggal 11 juli telah berlalu dan sejauh perhitungan suara hingga hari ini (25/07/2012), pasangan Jokowi-Ahok masih bercokol di puncak kemudian diikuti oleh pasangan Foke-Nara di posisi kedua. Meskipun hasilnya belum final, tetapi sangat besar kemungkinan pilkada Jakarta kali ini akan dilanjutkan ke putaran kedua karena tidak ada pasangan yang memperoleh suara di atas 50% dari total pemilih. Calon pemimpin Jakarta pun menciut pada kedua nama teratas tersebut. Berdasarakan data-data dari kebanyakan lembaga survey di Indonesia, pasangan Jokowi-Ahok diprediksi sukses duduk di posisi pertama pada pilkada periode II mendatang. Selain itu informasi mengenai populernya pasangan Jokowi-Ahok juga tersirat melalui percakapan di berbagai media sosial. PoliticaWave.com sebagai situs yang mengumpulkan data percakapan di media sosial secara real time juga menempatkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai duet yang lebih populer dibanding saingannya. Nilai Trend of Exposure tertinggi yang dilansir oleh PoliticaWave.com (25/07/12) masih dipegang oleh pasangan Jokowi-Ahok. Pasangan ini juga memperoleh Candidate Electability, Media Trend, Share of Exposure dan Share of Citizen paling tinggi di media sosial khususnya twitter.




 Gambar 2. Grafik hasil pengamatan PoliticaWave.com di berbagai media sosial.

Dari hasil survey di atas maka semakin tampak jelas siapa yang akan memimpin Jakarta untuk lima tahun mendatang. Tetapi pertanyaannya saat ini, apakah figur tersebut sudah cukup kapabel dalam memimpin Jakarta yang dikenal dengan sejuta masalahnya? Apakah mereka (pasangan terpilih) mampu melihat akar masalah yang menjadi prioritas untuk diselesaikan yaitu pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, masalah pertumbuhan penduduk Jakarta harus mendapat perhatian serius. Pemimpin kelak, wajib melakukan tindakan realistis dalam mengurangi laju pertumbuhan penduduk yang ada. Setidaknya dua langkah strategis yang dapat dilakukan oleh mereka adalah mengintensifkan program KB dan menurunkan arus urbanisasi. Kedua akar masalah ini harus diselesaikan terlebih dahulu jika tidak ingin bernasib seperti pemimpin-pemimpin sebelumnya yang ‘gagal’ mengelola Jakarta. 

1 komentar:

  1. siapapun pemimpinnya, masalah seperti ini harus cepat teratasi.. karena jakarta merupakan mini indonesia dan ibukota negara.. :)

    BalasHapus