Kamis, 13 Desember 2012

The Power of Giving dan Remunerasi


Sumber : http://tulisansahabatku.wordpress.com/
Manusia hanya mampu merajut asa, tetapi tak pernah mampu menentukan apa yang akan terjadi. Manusia hanya mampu bermimpi, tetapi tak pernah mampu mengatur kenyataan. Memiliki pun demikian, sebab memiliki adalah anugerah sekaligus amanah. Tidak semua orang mampu memiliki dan tidak banyak orang yang diberikan amanah untuk memiliki. Apa yang kita miliki selayaknya disyukuri, bahkan ketika kita gagal mendapat apa yang seharusnya kita dapatkan. 

Tentu resah dan gelisah akan menyelimuti ketika apa yang kita nantikan tak kunjung datang, tetapi lebih galau lagi bila kita tak mungkin mendapat apa yang diharapkan. Bahkan dengan menabrak norma-norma kepantasan, ia tetap jua tak bisa disentuh. Lalu dengan apakah kita menamakan keadaan ini?


Mungkin kita tak pernah tahu apa penyebab dari terjadinya banyak hal, dan bagiku itu tidak penting dibandingkan dengan kejeniusan hati untuk menyikapinya dengan bijak. Ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan, apakah aku harus jatuh berkeping-keping, berdarah, bahkan mati mengenaskan? Seorang pecundang akan menjawab “iya”. Tetapi bagi kita yang kuat, kegagalan adalah modal terbaik itu mengejar kemuliaan. Bukankah bola yang dilempar paling kuat, akan melenting paling tinggi? Jika itu benar, kenapa harus takut jatuh?

Dan ketika kita hidup minimalis apakah itu sebuah alasan untuk tidak berbagi? Tentu tidak. Di dalam keterbatasan kita tetap harus berbagi, tidak harus materi. Mungkin sepercik senyum atau sedikit perhatian atau seuntai sapa akan membuat perubahan bagi mereka yang memerlukan. Terkadang kesibukan membuat kita lupa dengan apa yang ada di sekitar kita. Tak jarang pula kita mengeluh dengan pekerjaan dan kesibukan yang tak pernah ada habisnya sampai-sampai kita tak punya waktu menikmati apa yang kita hasilkan. Lalu untuk apa kita hidup? Jika itu yang kita rasakan saat ini, maka cobalah untuk mundur selangkah dan keluar dari rutinitas yang ada. Tarik napas dengan bebas, ekspresikan dirimu, dan pandanglah keindahan yang ada di sekitarmu.

Kata kunci untuk menjadi pribadi yang lebih baik bukanlah berjuang untuk kesuksesan tetapi berjuang untuk berbagi. Jangan asyik dengan duniamu sendiri, karena kita makhluk sosial. Itu kata guru SMA ku dulu, heeeee. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa tujuan berbagi bukanlah untuk remunerasi (mendapat imbalan), tetapi itu adalah kewajiban kita sebagai makhluk yang memiliki cinta. Percayalah, apa yang kita tabur itu pula yang akan kita tuai. Tak mungkin seorang petani padi memanen ular?

Percuma semua hal yang diperoleh, jika kita tak pernah memiliki jiwa untuk berbagi karena sebenarnya tuntutan hidup manusia bukanlah melatih otot untuk sukses tetapi melatih hati untuk lebih peka. Jadi berbagilah, karena kita sudah disediakan remunerasi oleh Sang Pencipta (The Power of Giving).

Kamis, 13 Desember 2012
Ketika jiwa terasa bebas*  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar